Mindset Sekolah Alam

Sebagian orang mungkin belum mengerti apa itu sekolah Alam. Jangankan orang awam orang yang bergerak di dunia pendidikan formal saja masih banyak yang belum paham dengan konsep sekolah ini. Pada tahun 2018 tepatnya, sekolah kami “Sekolah Alam Lubuklinggau” berkesempatan untuk di visitasi oleh tim Asesor Dinas Pendidikan, kedua Asesor sempat berkelakar pada saat menerima SK pembagian tugas, bahwa mereka mendapatkan nama Sekolah Alam Lubuklinggau, salah satu asesor berkelakar dengan asesor satunya “ Kira-kira Sekolah alam ini seperti apa ya pak…kok kita kebagian sekolah ini”, dan asesesor yang satunya lagi “berkata mungkin sekolahnya di atas pohon atau di dalam hutan …kali”. Cerita ini kami dapatkan sendiri dari kedua asesor pada saat di awal masa visitasi sekolah kami.

Ide sekolah alam sebenarnya sudah lama dicetuskan beberapa tahun yang lalu tapi sangat sedikit diaplikasikan oleh banyak sekolah terutama sekolah-sekolah yang berada di kota. Istilah sekolah alam hanya terkotak pada eksplorasi alam (Belajar di Pohon, belajar di pinggir pantai, hutan dll) dan keterbatasan media belajar. Begitulah anggapan miring tentang sekolah Alam, terkadang lebih sadis dari itu, orang beranggapan pedirian sekolah alam karena keterbatasan biaya untuk membuat fasilitas yang bagus untuk sekolah, jadi orang beranggapan sekolah asal jadi.

Jika menilik pada esensi dasar pendidikan sebenarnya sekolah alam adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dari orang tua sebagai main teacher, guru sekolah, dan peserta didik. Persoalannya adalah bagaimana mengembalikan definisi sekolah alam itu pada tempatnya. Sekolah alam merupakan pengembangan kurikulum dimana peserta didik bereksplorasi seluas-luasnya terhadap lingkungan di sekitarnya melalui seluruh panca inderanya. Untuk itu, dengan definisi ini setidaknya ada 7 prinsip yang dapat diaplikasikan mengenai sekolah alam:

1.Alam adalah seluruh semesta yang dapat ditangkap dengan indera Manusia

Sebagian dari anda mungkin beranggapan bahwa yang dimaksud dengan alam terbatas pada hutan, lautan, perkebunan, pertanian. Tidak demikian dalam hal ini, alam merupakan seluruh bagian dari semesta yang meliputi ciptaan Tuhan dan manusia. Gedung-gedung perkantoran, fasilitas umum perkotaan, industri, bahkan tempat perbelanjaan termasuk bagian dari alam yang dapat dipelajari. Seluruh bagian dari alam semesta yang dapat ditangkap dengan mata, didengar telinga, diraba oleh sentuhan, dicium baunya, dirasakan oleh lidah adalah media belajar.

Pengalaman selama saya menjadi edukator, seorang peserta didik pada level high school bahkan tidak tahu yang namanya binatang kelabang. Pengetahuannya tentang IT dan berbagai macam jenis makanan internasional serta mode pakaian terbaru terkalahkan karena dirinya juga tidak tahu pakaian tradisional Indonesia dan makanan yang bernama bubur ayam Menado. Ini sungguh ironis karena ditengah kemajuan teknologi seperti ini terlalu banyak orang tua justru proteksi anaknya untuk bersentuhan langsung dengan alam semesta yang tradisional. Salah satu contoh saya dapati seorang anak baru tahu merasakan sentuhan terhadap tanah pada suatu kunjungan belajar ke sebuah perkebunan. Ada lagi seorang anak level junior high school yang baru mengetahui tanaman bernama jahe. Hal seperti ini tidak mengherankan terjadi karena setiap indera tanpa sadar tidak difungsikan dengan baik dengan adanya gadget yang sudah diberikan orang tua sejak dini. Fungsi indera hanya terbatas pada visual dan sentuhan layar tanpa tahu artinya meremas, memegang, melihat indahnya alam semesta, kesibukan aktifitas pagi hari, dan lain sebagainya.

2.Proses pendidikan tidak dibatasi oleh dinding sekolah

Bukan berarti sekolah alam berarti diidentikan tidak memiliki bangunan sekolah, namun sumber belajar utama bukanlah terbatas pada dinding sekolah, buku, media belajar lainnya yang super lengkap. Justru di dalam keterbatasan sebenarnya proses belajar baru benar-benar berlangsung. Bagaimana tidak sejumlah sekolah saat ini sesuai dengan standar nasional dan pencitraan sekolah bergengsi memperlengkapi diri dengan berbagai media belajar yang super lengkap dan high tech. Padahal sebalinya sejumlah sekolah di luar negeri justru mengembalikan proses belajar kepada alam dengan permainan dan proses belajar yang amat sederhana. Simulasi belajar melalui permainan, role play, atau gerak dan lagu menjadi bagian proses belajar yang menarik tanpa harus mengabaikan perkembangan teknologi yang sudah ada. Aktifitas belajar bukan melulu harus banyak jalan-jalan keluar tetapi bagaimana seluruh fungsi indera ditempatkan secara tepat dan berperan secara maksimal itulah menjadi fokus utama. Proses belajar tidak melulu terkotak dengan model belajar, aktifitas, dan sekat-sekat kelas yang kaku tetapi dinamis, kontekstual, dan aplikable.

3.Peserta didik bersentuhan dengan objek belajar sebagai bagian dari permainan

Menyinggung poin pertama kembali banyak peserta didik saat ini sudah lupa tentang natur manusia sebagai makhluk bermain. Permainan sebatas game online atau aksi-aksi brutal yang semestinya tidak dilakukan seperti perkelahian bahkan ketindakan anarkis dan membunuh. Permainan juga cenderung bukan bersifat fun tetapi justru menakutkan. Berapa banyak permainan baik online maupun fisik yang menarik bagi peserta didik masa kini adalah perkelahian, zombie-zombiean, rumah setan, atau perang-perangan.

Berbeda sekali dengan model permainan yang diterapkan pada masa lampau yang fun dan meaningful. Permainan tradisional contohnya ketika seorang anak mengambil dua batok kelapa yang kemudian dibalik dan diberikan tali dari pusatnya serta di tarik ke atas, maka jadilah sebuah egrang versi batok kelapa. Unsur kreatifitas, kepolosan, pemanfaatan sumber daya alam, fun, dan tentunya murah meriah menjadi bagian pembelajaran yang tentunya tidak akan terlupakan. Masih banyak lagi cara guru dapat mengarahkan peserta didiknya memanfaatkan alam semesta ini dengan mengamati dan kemudian menciptakan suatu kreasi, itulah bagian dari proses belajar yang fun tetapi meaningful. Disamping itu, banyak karakter-karakter dasar ditanamkan melalui nilai-nilai kerjasama, ketekunan, kesederhanaan, dan lain sebagainya.

4.Guru adalah fasilitator dan peserta didik adalah creator

Istilah pencipta dalam hal ini bukan saja peserta didik dituntut menciptakan suatu produk jadi dari alam tetapi dirinya adalah pencipta kurikulum bagi dirinya sendiri. Peran guru sebenarnya sangat terbatas karena perbandingan seorang guru mengajar dan keseharian anak belajar sebenarnya sangat jauh. Setidaknya guru mata pelajaran maksimal dalam sehari tidak melebih dari 4 jam pelajaran sedangkan peserta didik belajar dari pagi sampai malam dengan berbagai tugas yang ada. Tidaklah tepat jika kemudian guru sekadar mengajar maka pesan yang akan disampaikan tentu tidaklah efektif dan berperan besar selain mentransfer ilmu pengetahuan.

Justru sebenarnya proses belajar harus dimulai dari diri peserta didik yang menikmati pembelajaran menjadi bagian dirinya seumur hidup. Penanaman nilai semacam ini hanya tercipta jika guru berperan sebagai fasilitator dan peserta didik sebagai creator. Menanamkan konsep ini hanya bisa dilakukan jika guru memiliki paradigma mengajar sekolah alam. Sekolah alam berarti guru berperan menuntut peserta didik untuk mengeksplore lingkungan yang ada sehingga dalam diri anak tersebut kemudian bersentuhan dengan berbagai masalah. Dengan adanya masalah-masalah yang dihadapi peserta didik tentu mendorong dirinya untuk terus menggali dan menemukan problem solving atas masalah tersebut. Inilah yang sebenarnya dimaksud dengan paradigma peserta didik menciptakan model belajar bagi dirinya sendiri. Pada konsep homeschooling baik dalam bentuk learning centre ataupun pribadi sebenarnya paradigma ini jauh lebih mudah diterapkan karena secara tidak langsung peserta didik akan tertantang dengan sendirinya. Disamping itu peran orang tua atau fasilitator juga lebih banyak mengakomodir dengan lebih fleksibel tetapi terarah.

5.Keterlibatan orang tua sebagai main teacher

Sebuah sekolah yang dikatakan menerapakn prinsip sekolah alam adalah sekolah yang dengan nyata melibatkan peran orang tua sebagai main teacher. Kekeliruan terbesar yang dihadapi sejumlah sekolah adalah peran masing-masing terpisah walaupun dalam konsepnya menjalin kerjasama. Pertemuan orang tua dan sekolah lebih banyak diisi dengan laporan sekolah kepada orang tua tanpa ada kepedulian bagaimana peran orang tua kepada anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit orang tua lebih banyak menuntut pihak sekolah dan seolah hanya berperan menitipkan anak serta mentransfer uang. Sekolah sebagai lembaga dedikasi berubah peran menjadi lembaga profit yang memanfaatkan itu semua, sehingga seberapapun orang tua menuntut dipenuhi asalkan keuangan tetap mengalir.

Padahal peran yang sebenarnya terbesar adalah orang tua sebagai main teacher dan guru/sekolah sebagai supplement teacher. Orang tua kemungkinan tidak 100 % menguasai seluruh ilmu pengetahuan yang perlu anak-anaknya perlu pelajari untuk itulah bekerjasama dengan institusi sekolah anak tersebut belajar. Walaupun demikian, kerangka kurikulum secara global sebenarnya ada pada orang tua dimana dirinya berharap anak tersebut mau dibangun seperti apa dan menjadi apa. Dalam hal inilah komunikasi yang baik dan kerjasama yang intens antara sekolah dan orang tua menjadi sangat penting. Sekolah bukan menjadi tempat untuk sekadar meraih ijazah formal tetapi justru menjadi tempat dimana peserta didik dapat menanyakan hal-hal yang tidak dapat dipelajari secara ilmu pengetahuan dari orang tuanya. Untuk itu sebenarnya hadirnya tempat les baik publik maupun privat sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan apabila kerjasama ini sungguh dibangun dengan baik. Tetapi sayangnya sekolah saat ini hanya berperan sebagai tempat dimana pagi hari anak-anak bekerja seperti halnya orang tuanya ke kantor, tidak lebih dari itu.

6.Gerak tubuh (gesture) dan intonasi suara adalah media komunikasi utama guru

Salah satu kesalahan terbesar seorang guru adalah sibuk dengan media belajar dan komunikasi. Media belajar dan media komunikasi yang kita gunakan memanglah penting tetapi sebenarnya tidak menentukkan keberhasilan bagaimana guru mengajar bahkan cenderung bersifat senjata makan tuan. Bagaimana tidak apabila guru gagap teknologi alias gaptek tentu saja proses belajar justru menjadi membuang waktu dan menjadi tepat sasaran.

Alat komunikasi terbaik selain objek belajar secara langsung yang kita kunjungi adalah gerak tubuh dan intonasi suara. Tuhan menciptakan tubuh manusia dengan kelenturan dan ekspresi yang bervariasi, bahkan banyak bagian tubuh yang dapat dikembangkan secara spesifik seperti menjadi penari atau pemain akrobatik. Setidaknya ekspresi wajah, tinggi rendahnya suara, dan gerak tangan serta kaki yang searah akan sangat menolong pemahaman peserta didik terhadap penjelasan kita sebagai guru. Menjelaskan suatu objek tidak melulu harus dengan LCD dan proyektor atau media elektronik lainya tetapi dengan menunjukkan objek, memberikan ekspresi selayaknya gaya seorang pencerita akan menjadi fokus utama peserta didik. Apalagi dengan kemampuan sejumlah peserta didik memainkan berbagai macam gadget dan teknologi sekarang sebenarnya keberadaan media belajar super canggih sudah bukan sesuatu yang menarik lagi bagi mereka. Justru yang menarik hal-hal kecil sederhana yang sudah lama mereka tidak nikmati seperti gaya guru sebagai story teller yang baik karena kemungkinan besar anak-anak masa kini sudah tidak pernah mendengar dongeng dari orang tua. Sekali lagi story teller bukan membacakan cerita atau bercerita datar tetapi mampu membawakan content belajar menjadi deskriptif, hidup, inspiratif, dan termotivasi.

7. Membangun suasana informal tanpa menguarangi rasa hormat dan penghargaan peserta didik kepada guru

Walaupun sejumlah sekolah sudah banyak mengurangi sekat-sekat formalitas baik dari penyusunan tempat duduk, atribut-atribut kelas, dan posisi guru, tetapi masih terkesan setengah-setengah. Berapa kelas dibangun dengan suasana lesehan, duduk berhadapan seperti meja rapat, belajar di kafe atau di bawah pohon dan berbagai model kelas kontroversial tetapi inspiratif lainnya.

Sekolah tanpa sekat adalah filosofi sekolah alam sekalipun bukan berarti tanpa ada bangunan base camp dalam pelaksanaan adiministratif sekaligus ajang pertemuan resmi dan kebersamaan. Keberanian suatu institusi pendidikan membangun format proses belajar yang informal bukan saja reformasi pendidikan di Indonesia tetapi mengubah paradigma bahwa guru dan peserta didik seharusnya memiliki relasi yang dekat. Guru berperan seperti seorang mentor, fasilitator, coach yang tidak menggurui tetapi membimbing dan menjadi panutan bagi peserta didik. Suasanan demikian hanya terbangun apabila ada kedekatan antara guru, peserta didik dan bahkan orang tua.

Suasana informal juga mendukung proses belajar yang menyenangkan tanpa harus mengabaikan aturan main dalam belajar. Dengan demikian, penghargaan terhadap guru dan proses belajar tetap dimiliki peserta didik.

(tulisan yang sama ada di kompasian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *